Posted by: Indonesian Children | October 4, 2010

Kumpulan Berita Penjualan Anak di Indonesia

Berita Penjualan Anak di Indonesia

Polisi Kumpulkan Bukti untuk Jerat Yayasan Permata Hati

sumber : tempo

Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Bogor masih melakukan penyelidikan terkait dengan dugaan penjualan anak yang dilakukan Yayasan Permata Hati. Hari ini petugas tengah memeriksa petugas dari Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kota Bogor di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polresta Bogor. Kasat Reskrim Ajun Komisaris Indra Gunawan menjelaskan pihaknya masih melakukan penyidikan terkait kasus tersebut.”Hari ini kami mintai keterangan dari Disnakersos Kota Bogor,” ujar Indra. Selain meminta keterangan dari Dinsnakersos, pihaknya juga akan meminta keterangan kepada pemilik Yayasan Permata Hati. ”Resminya baru besok kami layangkan surat pemanggilan ke pengelola Yayasan,” kata dia. Indra menjelaskan pihaknya sengaja melakukan pemeriksaan terhadap saksi lain terlebih dahulu. ”Supaya kami punya bukti kuat, sehingga calon tersangka tidak bisa mengelak,” ujar Indra.

Sebelumnya, ungkap Indra, pada tanggal 14 Juni 2010, Polisi mendapat laporan dari seseorang bernama Rohani, 18 tahun, warga warga Kampung Pacilong Ujung RT 5/10 Kelurahan Kedung Badak Kecamatan Tanah Sarea, karena tidak bisa bertemu dengan kedua bayi kembarnya yang bernama Anisa dan Andri oleh Pengelola Yasayan Permata Hati. Anisa sempat dirawat di RS Islam Budi Agung Kota Bogor, namun sejak hari sabtu (3/7) lalu Andri di evakuasi ke Rumah Perlindungan Sosial Anak Bambu Apus Jakarta Tim. ”Sekarang ini kami tengah melakukan penyelikan atas dua perkara, terhadap Yayasan Permata Hati,” kata Indra. Pekan lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Polres Bogor menggerebek tempat penampungan yayasan ini di Bogor. Dari hasil penggerebekan ditemukan belasan anak yang terlantar.

Dinas Kesehatan Asuh 3 Bayi Korban Penjualan Anak

sumber : tempo

Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Makmur Sunusi, menyatakan kemungkinan telah terjadi kasus penjualan anak serta adopsi ilegal yang dilakukan Yayasan Permata Hati. Hal itu disampaikan Makmur, saat melihat kondisi ketiga bayi di RS Islam, Kota Bogor jumat (2/7) sore. Makmur yang didamping Direktur Pelayanan Sosial Anak, Hari Hikmat, menjelaskan tidak semua yayasan mendapatkan izin adopsi. Dua  yayasan yang mendapatkannya  adalah Yayasan Sayap Ibu di Jakarta dan Matahari Terbit di Surabaya. ”Ada aturan khusus untuk adopsi, cuma ada dua yang bisa melakukan adopsi,” ujar Makmur. Pada kesempatan itu Makmur juga memberikan apresiasi kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia pusat yang menyerahkan anak tersebut ke RS Islam, selanjutnya Kementerian Sosial akan mengambil alih ketiga anak tersebut.”Khawatir nanti akan ada orang yang mengaku untuk mengambil anak, serta untuk menghindari adopsi ilegal dari pihak lain,” ujar Makmur.
Pihaknya juga akan melakukan rekam jejak ke tiga anak tersebut, diikuti dengan melakukan caskonfres (Pembahasan Kasus). Terkait perizinan pihaknya juga akan menelusuri dengan Dinas Sosial Kota Bogor.

Jual Bayi 23 Hari, Wanita Indonesia Ditangkap Polisi Malaysia

sumber : detik

Kepolisian Malaysia menggagalkan kasus perdagangan anak di negara tersebut. Beberapa wanita asal Indonesia tersangkut kejahatan tersebut.
 “Kita masih terus menyelidiki kasus itu,” kata Kepala Departemen  Investigasi Kriminal Huzir Mohamad, seperti dikutip dari AFP, Minggu (18/7/2010).

Polisi Malaysia menahan 16 orang tersangka, termasuk empat wanita Indonesia. Kasus ini bisa dibongkar setelah petugas menangkap seorang wanita dari Indonesia yang mencoba menjual bayi berusia 23 hari senilai 10.000 Ringgit.

Selain itu, polisi Malaysia juga berhasil menyelamatkan seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dan seorang bocah wanita berusia tiga tahun. Polisi juga menahan dua orang wanita Indonesia yang menjadi pengasuh balita itu.  Petugas masih menyelidiki dalang penjualan anak tersebut. Sampai saat ini delapan anak dan tiga bayi berusia antara 23 hari hingga 12 tahun bisa diselamatkan.  Kepolisian Mayasia akan bekerja sama dengan Kepolisian Indonesia untuk mendapatkan informasi mengenai peran wanita Indonesia yang tertangkap tersebut.

Pada bulan Desember tahun lalu, polisi Malaysia menggungkap sindikat penjualan bayi yang telah beroperasi selama lima tahun dan mengamankan 13 orang. Seorang wanita dan dua orang anaknya kemudian didakwa melakukan penjualan bayi dan menghadapi hukuman 20 tahun penjara jika bersalah.  Sindikat ini biasanya membeli bayi dari penduduk miskin di negara tetangga atau dari pembantu rumah tangga yang hendak menggugurkan bayinya.

 

Polisi Buru Broker Penjualan Anak

sumber : Indopos

Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Bandung Barat terus mengembangkan kasus perdagangan anak yang dilakukan Ida Hamidah, 23. Kini polisi tengah memburu perantaranya antaralain Neli yang disebut Ida sebagai perantara dirinya ketika menjual bayi pertamanya yang baru berusia 9 bulan itu.

Kasatreskrim Polresta Bandung Barat AKP Philemon Ginting mengatakan, pihaknya sedang mencari Neli untuk diperiksa dan dijadikan saksi masalah perdagangan anak yang dilakukan Ida. “Hingga kini keberadaannya belum diketahui hal ini menyulitkan kita untuk meminta keterangan darinya. Didatangi ke kediamannya pun sudah tidak ada,” jelasnya ketika dihubungi wartawan, kemarin siang.

Diungkapkannya, Neli merupakan tetangga Ida yang disebut sebagai perantara agar anak Ida diasuh oleh seseorang yang bernama Aming. Ida mendapat bayaran sebesar Rp300 ribu sedangkan Neli mendapatkan Rp200 ribu. Hingga saat ini, diterangkan Philemon pihaknya telah memanggil orang yang sekarang mengasuh anak milik Ida. Dari penuturan Aming didapatkan pengakuan jika Aming bermaksud membantu anak dari Ida yang sering terserang sakit.

“Dia menceritakan saat bayinya berusia sembilan bulan sampai dengan sekarang (5 tahun) anak itu sering sakit-sakitan dan saya hanya membantunya saja,” jelas Philemon. Seperti diberitakan sebelumnya. Ida Hamidah, 23, tega menjual anak kandungnya seharga Rp500 ribu. Uangnya tersebut dipergunakan-nya untuk membayar hutang lantaran suaminya Johanis Aprianto Nahibaho, 25, sering mabuk-mabukan dan bermain judi.

Namun, aksi penjualan anak itu terbongkar Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Bandung Barat setelah Ida tertangkap kasus pencurian ditetangganya di Blok Beas, Caringin, Kota Bandung sepekan lalu. Seusai ditangkap, pihak kepolisian mendapatkan laporan daji sejumlah warga yang merupakan tetangganya bahwa Ida telah menjual anaknya lima tahun lalu. Dari sana petugas kemudian mengorek keterangan dan pelaku pun mengakui perbuatannya itu.

Ida menjelaskan, dirinya terpaksa menjual dan memberikan anak-anaknya ke orang Iain karena terpaksa. “Soalnya suami saya tidak pernah memberi uang. Saya kan jadi bingung. Harus cari uang darimana untuk beli susu. Temyata enak bikinnya tapi ngunisnya gak enak,” katanya lantas tersenyum. Saat menjual anak pertamanya yang bernama Diva, Ida baru berusia 18 tahun. Hubungan dengan orangtua suaminya pun tidak harmonis. Termasuk dengan orangtua Ida di Banjaran. “Jadi saya tidak mungkin menitipkan anak saya itu ke mertua atau ibu saya,” ucapnya.

Anaknya dijual setelah Ida bertemu degan Nelly, seorang pedagang pakaian di daerah Caringin. Nelly menawarkan bantuan untuk meringankan bebannya. “Dia bilang, ada saudaranya yang ingin punya anak perempuan. Rumahnya di daerah Pasirkoja. Ya sudah saya mau saja,” katanya. Esok harinya, Nelly mengantarkannya ke rumah saudaranya yang bernama Aming. Ida langsung bersedia menyerahkan anaknya kepada Aming.

“Saya disuruh tanda tangan di selembar kertas. Terus dikasih uang Rp500 ribu. Sebanyak Rp200 ribu diambil Bu Nelly. Jadi saya kebagian Rp300 ribu. Katanya itu uang pengganti biaya melahirkan,” terangnya. Sementara anak yang kedua juga diberikan kepada orang lain ketika baru berumur 3 bulan.

Kasatreskrim Polresta Bandung Barat AKP Philemon Ginting mengungkapkan, tersangka bisa dijerat beberapa pasal. Namun saat ini, masih dijerat pasal 362 KUHPidana tentang pencurian. Sedangkan kasus penjualan anak masih diselidiki dan didalaminya. “Untuk penjualan bayinya, kami masih dalam tahap penyelidikan. Tapi kemungkinan besar tersangka bisa dijerat pasal dari UU RI No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan UU RI No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Untuk saat ini, masih dijerat pencurian biasa dulu.” jelasnya,

 

Penjualan anak di Kaltim capai 79 kasus

sumber : solopos

Provinsi Kalimantan Timur termasuk daerah yang rawan terhadap kasus penjualan anak ke luar negeri, terbukti selama 2008 tercatat ada 79 kasus. Hal itu terjadi karena Kaltim berbatasan langsung baik darat maupun laut dengan Malaysia Timur.“Data 2009 memang belum kami memilikinya akan tetapi sepanjang 2008 terjadi 79 kasus perdagangan anak di Kaltim,” kata  Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kaltim, Ardiningsih di Samarinda, Sabtu (7/11). Menurutnya bahwa daerah yang rawan dan sering terjadi kasus penjualan anak di Kaltim adalah di Kabupaten Nunukan. Hal ini terjadi karena letak kabupaten ini sangat dekat dengan Tawau, Malaysia Timur sehingga berbagai kasus kejahatan penyelundupan rawan terjadi, termasuk penjualan anak.

Penjualan anak di Kaltim yang tertinggi ada di Nunukan, yakni sebanyak tujuh kasus. Sedangkan sisanya adalah kasus yang terjadi di Samarinda, Balikpapan dan lainnya. Ia mengaku prihatin terhadap masih adanya oknum yang tega melakukan perdagangan anak. Menurutnya bahwa Kabupaten Nunukan memiliki kasus tertinggi terhadap trafficking anak karena letaknya yang menjadi daerah transit menuju Tawau, Sabah (Malaysia Timur) melalui Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan.

Jarak perjalanan menuju Tawau dari Nunukan hanya sekitar satu jam sehingga memudahkan aksi penjualan anak itu.  Provinsi Kalimantan Timur memiliki wilayah sangat strategis karena berbatasan langsung dengan Malaysia, sehingga menjadi daerah lintasan bagi pencari kerja. Hal inilah yang memungkinkan orang untuk melakukan perdagangan anak. Berdasarkan atas kerawanan perdagangan orang (human trafficking) dan lebih spesifik lagi tentang perdagangan anak, maka Pemprov Kaltim  telah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pencegahan dan Penanganan Perdagangan Orang terutama perempuan dan anak.

Perda mengacu pada Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan perundang-undangan lainnya. Pemprov Kaltim pada 2004 sudah memfasilitasi pembentukan Koalisi Anti Trafficking (KAT) Kaltim yang melibatkan pemerintah dan masyarakat untuk penanganan isu-isu dan mencegah perdagangan orang di Kaltim.

Kaltim juga melakukan perjanjian kerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan (BPP) Jawa Tengah pada September lalu. Kerjasama itu meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kegiatan perlindungan korban kekerasan berbasis gender, anak dan tindak pidana perdagangan orang “Kerjasama ini perlu dilakukan karena Provinsi Jawa Tengah merupakan daerah dengan status provinsi terbanyak yang mengirim TKI ke Malaysia melalui sejumlah pintu termasuk Nunukan, Kaltim,” kata Ardiningsih.

Provided by

SAVE  THE CHILDREN INDONESIA  Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646 email : judarwanto@gmail.com 

http://saveindonesianchildren.wordpress.com/

Foundation and Editor in Chief : dr Widodo Judarwanto SpA

curriculum vitae 

 

Copyright © 2010, Save The Children  Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: