Posted by: Indonesian Children | February 13, 2009

ANAK JADI KOMODITAS BISNIS TELEVISI

dr Widodo Judarwanto SpA

Di penghujung tahun 2008, Global TV telah menayangkan Live Indonesia Kids Choice Awards (IKCA) dari Balai Sarbini, Jakarta. Acara ini merupakan kali pertama yang diadakan Nickledeon Indonesia, program yang hak siarnya dipunyai Global TV, di Indonesia bahkan di Asia. IKCA merupakan satu-satunya penghargaan yang dipilih oleh anak-anak sehingga mereka dapat menentukan siapa artis favorit, penyanyi favorit, pembaca acara atau special Awarding. Sementara pemilihan untuk menjadi pemenang dilakukan dengan voting via SMS serta mengisi formulir dari mobil IKCA yang berkeliling dari sekolah ke sekolah.

Malam itu terpilihlah artis wanita favorit adalah Cinta Laura, artis pria favorit Dude Herlino, penyanyi wanita favorit Agnes Monica, penyanyi pria favorit Afgan, dan sebagainya. Bila disimak lebih dalam makna dari acara tersebut seolah-olah memanfaatkan anak demi kepentingan bisnis pertelevisian. Tragisnya lagi, pemanfaatan ini cenderung membawa pendidikan dan pola hidup anak ke arah yang tidak sesuai perkembangan sesuai tahapan usia anak.

Anak Jadi Komoditas Bisnis
Harus dimaklumi usia anak adalah bagian terbesar dari komposisi penduduk masyarakat Indonesia. Usia anak termasuk pangsa pasar yang menjanjikan untuk kegiatan ekonomi apapun di Indonesia termasuk bisnis televisi. Apalagi secara psikologis, perkembangan anak masih belum mempunyai daya tangkal untuk membedakan baik buruknya informasi dan acara yang dilihat di televisi. Dengan keterbatasan itu anak sangat mudah dikendalikan emosi, perasaan dan pola pikirnya dengan suguhan dan tampilan yang glamour, menarik dan menyentuh jiwanya. Lihat saja, beberapa anak mendesak orangtuanya untuk berganti susu setelah tersugesti tayangan iklan susu di televisi. Hal inilah yang sering dimanfaatkan berbagai pihak demi keuntungan bisnis semata. Pemanfaatan anak sebagai komoditas bisnis ini menjadi ancaman yang besar bagi perkembangan anak bila stimulus dari tayangan televisi itu tidak sesuai dengan perkembangan moral anak.

Boleh saja pihak penyelenggara mengatakan misi acara IKCA tersebut adalah untuk memotivasi bakat dan minat anak. Tetapi bila dicermati tampaknya acara ini dikemas hanya sekedar pemanfaatan potensi anak yang demikian besar bagi komoditas bisnis pertelevisian. Bayangkan, dalam acara tersebut anak dipaksa memilih artis favorit yang setiap hari berperanan sebagai pemain sinetron dengan cerita cinta, selingkuh dan berbagai tema yang tidak sesuai perkembangan anak. Dalam acara itu anak digiring untuk memilih penyanyi favorit yang setiap hari menyanyikan lagu percintaan dan tema putus cinta. Upaya ini bukan saja memaksa anak untuk memilih sosok artisnya tapi sekaligus menggiring anak untuk terlibat dalam acara bukan layak konsumsi anak. Maka tidaklah heran saat ini anak kadang perkembangannya lebih cepat dari usianya. Berbeda dengan dahulu, anak saat usia 5-7 tahun sudah mulai tanpa malu-malu menyebutkan kata pacar untuk teman sekelas yang dikagumi.

IKCA secara tiidak disadari adalah upaya menjadikan anak sebagai bahan komoditas bisnis pertelevisian tanpa memperhatikan dampak lebih jauh terhadap perkembangan anak. Sebenarnya banyak sekali upaya berbagai pihak di dalam iklan ataupun materi tayangan televisi yang menjadikan anak hanya sebagai alat komoditas belaka.

Untuk itu orangtua harus cermat terhadap berbagai upaya yang dapat mengancam kelangsungan hidup anak melalui tayangan televisi. Orangtua harus terus mengawasi tiada henti serta membimbing bila melihat berbagai tayangan yang ada di televisi. Berbagai pihak yang terkait termasuk lembaga sosial pemerhati anak, Komisi Penyiaran Indonesia, ataupun berbagai pihak yang terkait harus terus memonitor dan memberikan sangsi apabila dalam tayangan di televisi dapat mengorbankan hak anak yang dapat mengganggu perkembangan anak. Bisnis pertelevisian harus terus tumbuh dan berkembang dengan meningkatkan kualitas informasi dan pendidikan untuk anak. Jangan sebaliknya, menjadikan anak sebagai sarana komoditas tanpa memperhatikan dampak yang dapat mengganggu perkembangan anak.

Provided by
DR WIDODO JUDARWANTO
SAVE INDONESIAN CHILDREN
Working together make a smoke-free homes and smoke-free zones for all children
Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210
PHONE : (021) 70081995 – 5703646
email : judarwanto@gmail.com
https://saveindonesianchildren.wordpress.com/
curriculum vitae

Copyright © 2009, Save Indonesian Children Network Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: