Posted by: Indonesian Children | June 6, 2009

Situational Child Molester

Situational child molester tidak memiliki preferensi seksual yang sebenarnya terhadap anak, namun melakukan hubungan seks dengan anak untuk alas an yang bervariasi dan terkadang kompleks. Situational child molester biasanya memiliki korban anak yang lebih sedikit dan berbeda-beda. Selain itu orang-orang rentan yang lain seperti orang tua, orang sakit, atau orang cacat juga memiliki risiko untuk menjadi korban seksualnya. Sebagai contoh, situational child molester yang melakukan kekerasan seksual pada anak di tempat penitipan anak dapat meninggalkan pekerjaannya di tempat itu dan melakukan kekerasan seksual pada orang tua di panti jompo. Situational child molester memiliki empat pola perilaku mayor, yaitu regresi (regressed), tidak memiliki diskriminasi secara moral (morally indiscriminate), tidak memiliki diskriminasi secara seksual (sexually indiscriminate), dan inadekuat (inadequate).

 

 

  1. Regresi (regression) Pelaku biasanya memiliki rasa percaya diri yang rendah dan kemampuan mengatasi masalah yang kurang (poor coping skills). Ia menganggap anak sebagai pengganti (substitusi) pasangan seks yang setara dengan dirinya yang lebih ia sukai. Stress memainkan peranan cukup besar dalam mencetuskan perilaku cabulnya. Kriteria utama korbannya adalah ketersediaan (availability) sehingga banyak pelaku mencabuli anaknya sendiri. Metode operasi utamanya adalah memaksa (coerce) anak berhubungan seks. Pelaku tipe ini bisa mengumpulkan pornografi anak atau dewasa, bisa juga tidak. Jika memiliki pornografi anak, biasanya berupa foto atau video buatan sendiri yang menampilkan anak yang ia cabuli.
  2.  Tidak memiliki diskriminasi secara moral (morally indiscriminate) Untuk pelaku tipe ini kekerasan seksual pada anak adalah bagian dari sebuah pola umum kekerasan dalam hidupnya. Ia adalah orang yang memperalat (user) dan melakukan kekerasan (abuser) terhadap orang lain. Ia melakukan kekerasan terhadap istri, teman, dan rekan-rekan sekerjanya. Ia berbohong, melakukan kecurangan, atau mencuri jika ia mengira ia tidak perlu mempertanggungjawabkannya. Ia mencabuli anak-anak dengan alasan sederhana: “Kenapa tidak?” (Why not?). Kriteria utama korbannya adalah kerentanan (vulnerability) dan  kesempatan (opportunity). Ia memiliki keinginan, seorang anak kebetulan berada di sana, maka ia bertindak. Biasanya ia menggunakan kekuatan (force), umpan (lures), atau manipulasi untuk mendapatkan korbannya. Ia biasanya mengoleksi majalah-majalah detektif atau pornografi dewasa yang bersifat sadomasokistik (sadomasochistic).
  3.  Tidak memiliki diskriminasi secara seksual (sexually indiscriminate) Perbedaannya dengan morally indiscriminate adalah pelaku memiliki diskriminasi dalam perilakunya kecuali dalam hal seks. Pelaku mau mencoba segala sesuatu yang bersifat seksual. Motif dasarnya adalah percobaan seksual (sexual experimentation), dan tampaknya ia melakukan hubungan seks dengan anak karena ia bosan. Kriteria utama korbannya adalah mereka baru dan berbeda (new and different), dan ia melibatkan anak-anak dalam aktivitas seksual yang ada sebelumnya (previously existing sexual activity). Dari semua situational child molester,  tipe ini adalah yang paling mungkin memiliki korban multipel, memiliki latar belakang sosioekonomi tinggi, dan mengoleksi pornografi dan erotika. Namun pornografi anak merupakan sebagian kecil dari koleksinya yang banyak dan bervariasi.
  4.  Inadekuat (inadequate) Termasuk di dalam pola perilaku ini orang-orang yang mengalami psikosis, gangguan kepribadian eksentrik, retardasi mental, dan ketuaan (senility). Walaupun kebanyakan dari orang-orang tersebut tidak berbahaya, beberapa dapat menjadi pelaku pencabulan anak dan, dalam beberapa kasus, bahkan menjadi pelaku pembunuhan anak. Pelaku ini terlibat hubungan seks dengan anak karena rasa ketidakamanan (insecurity) atau rasa penasaran (curiosity). Ia menganggap anak sebagai objek yang tidak berbahaya (nonthreatening objects) sehingga ia dapat mengeksplorasi fantasi seksualnya. Dalam beberapa kasus pelaku memilih anak tertentu sebagai pengganti orang dewasa tertentu (mungkin kerabat anak tersebut) yang tidak dapat didekati secara langsung oleh pelaku. Selain anak, orang tua juga dapat menjadi korbannya, siapapun yang terlihat tidak berdaya. Pelaku mungkin mengoleksi pornografi, namun kemungkinan besar berupa pornografi dewasa.

 

Provided by
SAVE  INDONESIAN CHILDREN’S

Yudhasmara Foundation

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

 

 

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com

https://saveindonesianchildren.wordpress.com/

 

Copyright © 2009, Save The Children  Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: