Posted by: Indonesian Children | June 10, 2009

BERITA : BERBAGAI PELANGGARAN HAK ANAK DI INDONESIA

BERITA I : Pelanggaran Hak Anak Banyak Tak Terungkap

sumber : TEMPO Interaktif

Pengamat masalah anak dari Universitas Indonesia, Purnianti mengatakan banyak kasus pelanggaran hak anak yang tak terungkap. Data 40,3 juta pelanggaran hak anak hanya angka yang berhasil didokumentasikan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak.

“Fakta di lapangan 15 persen lebih tinggi dari 40,3 juta,” katanya saat dihubungi Tempo, Senin lalu.

Jumat lalu, Komisi Nasional Perlindungan Anak mengungkapkan sepanjang tahun 2007, sebanyak 40,3 juta anak telah dilanggar haknya. Pelanggaran tertinggi adalah hak anak menempuh pendidikan (33,9 juta), hak jaminan kesehatan (3,2 juta), dan eksploitasi anak (3,16 juta).

Menurut Purnianti banyak data yang tidak tercatat karena keterbatasan akses, pencatatan dan ketidaktahuan masyarakat untuk melaporkan kasus pelanggaran. Ia membenarkan sepanjang 2007, pemenuhan kebutuhan dasar anak belum terpenuhi. Keluarga masih menganggap anak sebagai aset untuk membantu ekonomi keluarga. Akibatnya, keluarga tidak memprioritaskan kebutuhan anak untuk bersekolah melainkan bekerja di usia sangat muda. “Anak tidak bisa belajar, bermain, bersosialisasi dan mengembangkan kepribadian dengan baik,” katanya.

Tanggungjawab pada pemenuhan hak-hak anak, Purnianti melanjutkan, ada pada negara melalui berbagai kebijakan. Namun ironisnya, kebijakan sektoral tidak pernah memprioritaskan anak. Koordinasi antar departemen yang bertanggungjawab menjamin hak anak seperti Kementrian Pemberdayaan Perempuan, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen Tenaga Kerja tidak integratif. “Kepedulian di tingkat sektoral rendah. Alokasi anggaran bagi anak juga sangat minim,” katanya.

Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Arief Rachman, mengatakan tingginya pelanggaran hak anak karena ketidakmerataan akses pendidikan di daerah terpencil dan kemiskinan.

Data dari Komnas Perlindungan Anak menyebutkan sepanjang tahun 2007 sebanyak 4.370.492 anak putus sekolah SD, 18.296.332 anak putus sekolah SMP, dan 325.393 anak putus sekolah SMA. Sedangkan 11 juta anak sisanya buta huruf karena tidak sekolah.

Arief juga menyoroti masalah ketidaktepatan penggunaan anggaran pendidikan dan kesalahan manajemen pendidikan di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar alokasi anggaran justru habis untuk penyerapan anggaran birokrasi bukan perbaikan proses belajar mengajar dan peningkatan mutu pendidikan.

“Anggaran pendidikan mubazir pada kantong-kantong yang tidak perlu,” katanya. Ninin Damayanti

 

BERITA II : Kekerasan Terhadap Anak Meningkat

SUMBER : KOMNPAS

KETUA Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi mengatakan pelanggaran terhadap hak-hak anak di Indonesia kian mengkhawatirkan.

Berbicara di sela-sela lomba gerak jalan Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) di Lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Minggu  (20/7),  Seto menjelaskan fenomena kekerasan itu bisa terlihat dari data pelanggaran hak anak yang dikumpulkan Komnas Anak dari data induk lembaga perlindungan anak yang ada di 30 provinsi di Indonesia dan layanan pengaduan lembaga tersebut.

Data menunjukkan, pda tahun 2006 jumlah kasus pelanggaran hak anak yang terpantau sebanyak 13.447.921 kasus dan pada 2007 jumlahnya meningkat 40.398.625 kasus. Sedangkan selama periode Januari hingga Juni 2008, Komnas Anak mencatat sebanyak 21.872 anak menjadi korban kekerasan fisik dan psikis di lingkungan sosialnya.

Seto Mulyadi mendesak pemerintah untuk segera mengatasi masalah kekerasan anak karena akan mengancam kelangsungan dan kehidupan banga di masa depan. Bila kondisi  dibiarkan tanpa upaya serius mengatasinya, dikhawatirkan negeri ini bisa kehilangan satu generasi.

“Pemerintah harus memanfaatkan momen peringatan hari anak untuk memulai gerakan nasional perlindungan anak dari kekerasan. Kekerasan terhadap anak harus dihentikan sekarang juga,” katanya dan menambahkan gerakan nasional diperlukan untuk membangun gerakan komunitas menghentikan kekerasan terhadap anak.

Pelaku orang terdekat
Sementara itu Sekretaris Jendral Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, menambahkan, pelaku kekerasan terhadap anak sebagian besar adalah orang terdekat yakni keluarga atau tetangga.

“Menurut laporan yang dikumpulkan dari 33 lembaga perlindungan anak yang ada di provinsi dan kabupaten/kota itu, pelaku kekerasan terhadap anak sebagian besar adalah orang terdekat anak,” ujarnya.

Arist menambahkan, lembaga-lembaga pelindungan anak di daerah yang berafiliasi dengan Komnas Anak juga melaporkan selama periode Januari-Juni 2008 sebanyak 12.726 anak menjadi korban kekerasan seksual dari orang terdekat mereka seperti orang tua kandung/tiri/angkat, guru, paman, kakek dan tetangga.

Data statistik tersebut, ditambah data-data  jumlah kasus penculikan anak, kasus perdagangan anak, anak terpapar asap rokok, anak korban peredaran narkoba, anak yang tak dapat akses sarana pendidikan, anak yang belum tersentuh layanan kesehatan dan anak yang tak punya akte kelahiran, memperjelas gambaran muram tentang pemenuhan hak-hak anak Indonesia.

BERITA III : Pelanggaran Hak Anak Makin tak Terkendali

Pelanggaran terhadap hak anak dewasa ini semakin tidak terkendali dan mengkhawatirkan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Tantangan dan penderitaan yang dialami anak-anak masih belum berakhir. Kekerasan terhadap anak, baik fisik, psikis, dan seksual, masih menjadi fakta dan tidak tersembunyikan lagi. Karenanya, tidak tepat jika kekerasan terhadap anak dianggap urusan domestik atau masalah internal keluarga yang tidak boleh diintervensi oleh masyarakat, pemerintah, dan penegak hukum. Demikian dikatakan Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi dan Ketua Pelaksana Kongres Anak Indonesia VII/2008, Arist Merdeka Sirait, Senin (21/7) di Bogor, Jawa Barat.

“Kekerasan terhadap anak (fisik, psikis, dan seksual), selain tidak tersembunyikan lagi, juga membawa dampak yang permanen dan berjangka panjang. Karena itu, penanggulangannya perlu disegerakan, sekarang,” kata Seto Mulyadi.

Sementara itu, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah ketika membuka Kongres Anak Indonesia menegaskan, jika menginginkan Indonesia yang lebih baik ke depan, tidak ada pilihan, anak-anak harus dari sekarang bekerja keras dan belajar. “Kita gagal membangkitkan semangat kerja keras dan belajar dengan tekun. Kita tidak seperti bangsa Korea, yang semula negaranya miskin, sekarang menjadi bangsa yang maju dan masyarakatnya sejahtera,” katanya.

Menurut Kak Seto, secara yuridis formal perintah melindungi anak-anak dari kekerasan sudah diamanatkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Bahkan, Pasal 28 B atau 2 UUD 1945, secara eksplisit menjamin perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi. Di sisi lain, berbagai macam dan ragamnya pelanggaran terhadap hak anak yang semakin tidak terkendali, mengkhawatirkan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Arist menambahkan, data di Komnas Perlindungan Anak, sepanjang Januari-Juni 2008 ada 21.872 anak menjadi korban kekerasan fisik dan psikis dan 12.726 anak korban kekerasan seksual di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial anak. Sementara 70.000 sampai 95.000 anak diculik dan diperdagangkan untuk tujuan seksual komersial. “Ada 1.589 anak usia di bawah 5 tahun positif HIV/AIDS. Sebanyak 101 anak di antaranya ditemukan DKI Jakarta, ” ungkap Arist.

Tindak kekerasan terhadap anak juga berupa penculikan. Ada 136 anak menjadi korban penculikan, 18 anak di antaranya ditemukan dalam keadaan meninggal. Enam anak meninggal dalam bentuk mutilasi. Anak korban narkoba dan rokok juga banyak. Data menunjukkan, 800.000 anak menjadi korban peredaran narkoba. Sebanyak 15.800 anak remaja sekolah di DKI korban peredaran narkoba, 800 anak di antaranya adalah usia sekolah dasar. Sedangkan anak-anak yang merokok, usia 13-15 prevalensinya 24,5 persen (laki-laki) dan 2,3 persen (perempuan).

“Atas fakta dan data itulah dan bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2008, dilaksanakan Kongres Anak Indonesia VII/2008 sebagai salah satu bentuk wujud hak partisipasi anak untuk menyuarakan fakta dan data tersebut,” tandas Arist Merdeka Sirait. Sekitar 300 anak terbaik dari 33 provinsi di Indonesia, Senin (21/7) di Bogor, Jawa Barat, mengikuti Kongres Anak Indonesia VII/2008.

Mengusung tema Selamatkan Anak Indonesia dari Ketidakadilan. Kongres diawali dengan serangkaian Forum Anak di setiap provinsi yang bertujuan untuk merumuskan permasalahan-permasalahan yang akan dijadikan rekomendasi daerah untuk dibahas dalam Kongres Anak Indonesia VII/2008. Hasilnya berupa Deklarasi Suara Anak Indonesia yang akan dibawa 10 Duta Anak Indonesia diserahkan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak Hari Anak Nasional, 23 Juli 2008 di Taman Mini Indonesia Indah.

Mensos Bachtiar Chamsyah, yang juga banyak berkeluh kesah kepada anak-anak. Masalah kemiskinan, merupakan masalah yang berat dan mendasar bagi bangsa Indonesia. Dan apa yang jadi masalah sekarang, lebih banyak merupakan persoalan pemerintahan sebelumnya. Namun demikian, sudah banyak persoalan bangsa ini yang sudah berhasil diselesaikan.

“Jika anak-anak jadi pemimpin nantinya, yang perlu ditanamkan adalah jangan saling menyalahkan. Persoalan yang ada harus diselesaikan dengan kecerdasan dan arif-bijaksana. Demonstrasi tak menyelesaikan masalah. Yakinlah, masa depan Indonesia ke depan akan bagus. Indonesia akan menjadi bangsa yang dihormati dan masyarakatnya sejahtera,” ungkapnya.

Provided by

SAVE  THE CHILDREN INDONESIA  Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646 email : judarwanto@gmail.com 

https://saveindonesianchildren.wordpress.com/

Foundation and Editor in Chief : dr Widodo Judarwanto SpA

curriculum vitae 

 

Copyright © 2010, Save The Children  Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: