Posted by: Indonesian Children | June 26, 2009

KEPEDULIAN CAPRES PADA KEPENTINGAN ANAK

 

dr. Widodo Judarwanto, Sp.A.

            Semua perhatian seluruh masyarakat saat ini tertumpah pada setiap ucapan dan tindakan para calon pemimpin negeri. Tiga pasang calon RI-1 saat ini sedang berlomba-lomba mengagung-agungkan nama rakyat.  Setiap kata yang terucap selalu tidak pernah lepas untuk kepentingan rakyat. Bila dicermati lebih dalam belum ada satu calon presidenpun yang menyentuh dan peduli kepentingan anak dikaitkan dalam visi dan misinya secara tegas dan jelas. Padahal kelompok usia anak, yaitu antara 0 hingga 18 tahun adalah termasuk rakyat. Kelompok ini bahkan merupakan salah satu bagian terbesar dari piramida penduduk Indonesia. Apakah hanya karena anak adalah mahluk yang tidak berdaya dan tidak punya hak suara, maka kepentingan anak Indonesia menjadi terpinggirkan.

Kepedulian para capres terhadap pemenuhan hak anak terabaikan mungkin karena  masih menganggap bahwa kaum lemah hanya perempuan. Padahal, jelas-jelas jumlah usia anak lebih tidak berdaya dibandingkan dengan perempuan dewasa. Menteri Pemberdayaan Wanitapun dalam tindaknya masih mendominasi kepentingan perempuan dibandingkan dengan dukungan terhadap kepentingan anak. Nasib perempuan saat ini sangat mudah terangkat hanya karena banyaknya pejuang  perempuan termasuk politikus, menteri dan artis yang memperjuangkan nasib kaumnya. Sedangkan nasib anak Indonesia, mungkin hanya dapat dihitung dengan jari para pejuang yang gigih dan tanpa pamrih membelanya.

Permasalahan anak Indonesia

Anak adalah buah hati manusia dewasa. Apa pun yang dilakukan dalam kegiatan hidup yang utama adalah kepentingan anak. Anak adalah segalanya dalam hidup ini. Ini adalah ungkapan normatif yang selalu diucapkan orang tua atau semua manusia dewasa terhadap anak. Akan tetapi, kenyataan yang dialami anak tak semanis terucap di bibir. Masih banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari, orang dewasa menelantarkan anak.

Banyak contoh yang menunjukkan bahwa hidden neglected sebenarnya sering terjadi pada anak. Tahukah bahwa belaian manja terhadap anak selama ini, secara tidak disadari menutupi penelantaran terhadap anak. Contohnya, sambil membelai anak dengan mesra sepasang selebritis mengumumkan perceraian di antara mereka. Pasangan selebritis itu tidak menyadari, pengorbanan psikologis yang harus ditempuh si anak dalam kehidupan mendatang demi ego orang tuanya. Bukan hanya itu, secara tidak disadari kehidupan sosial, ekonomis, dan perkembangan anak pasti akan terancam. Anak adalah nyawa tak berdaya, tak berdaya menolak dampak konflik di antara orang tua.

Banyak pengemis jalanan menggendong bayi demi sesuap nasi. Dengan menggendong bayi, pundi-pundi rupiah akan semakin mudah didapat. Harus dimaklumi, sang pengemis pasti akan berniat semua itu adalah untuk menafkahi anak. Akan tetapi tidak disadari pengemis itu, pengorbanan anak sangat luar biasa. Khususnya dalam gangguan fisik, trauma panas, trauma hujan, dan gangguan kesehatan lainnya. Anak adalah nyawa tak berdaya, tak berdaya menghindar dari orang yang menjadikannya sebagai alat komoditas.

Di bidang kesehatan permasalahan klasik gizi buruk, angka kematian anak yang tinggi, pencegahan penyakit, pemenuhan imunisasi yang tidak lengkap, ancaman HIV AIDS atau narkoba masih belum menjauh dari nasib anak Indonesia. Bahkan diduga 43 juta anak-anak di Indonesia merupakan perokok pasif, yang berpotensi berlipat kali lebih berbahaya dibandingkan perokok aktif. Anak adalah nyawa yang tak berdaya untuk menghindar dari ancaman kesehatan yang tidak disadari menguntitnya setiap saat. Hanya karena ketidakpedulian orang dewasa, terjadi penelantaran hak anak secara tersembunyi.

            Permasalahan serius lainnya seperti adanya dugaan ILO (Internasional Labour Organization) bahwa sekitar 40.000 anak di Indonesia mengalami Ekspoatasi Seksual. Belum lagi masalah perdagangan anak, tenaga kerja anak, kekerasan terhadap anak, gizi buruk, pemenuhan pendidikan dan berbagai permasalahan anak lainnya masih mengancam.

Pentingnya anak sebagai titipan negara pada keluarga diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1979 dan Keputusan Presiden No.44 Tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli setiap tahunnya. Penetapan 23 Juli ini bertepatan dengan tanggal diundangkannya UU No. 23 Tahun 1979 tersebut. Berbagai perangkat hukum yang melindungi kepentingan anak adalah UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No. 3 /1997 tentang Pengadilan Anak. Mereka juga dilindungi dan diatur dalam UU No. 10/1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, UU No. 23/1992 tentang Kesehatan, dan UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bahkan MDGs atau Millennium Development Goals, yang disepakati para anggota PBB beberapa tahun yang lalu dalam sebuah KTT global yang kemudian melahirkan Millennium Declaration. Tujuan akhir MDGs, tiga diantaranya sangat berkaitan dengan anak yaitu masalah kemiskinan dan kelaparan, angka kematian anak dan ancaman penyakit menular termasuk HIV AIDS pada anak.

Demikian banyaknya aturan hukum dan strategi yang melindungi hak anak di segala aspek kehidupannya, ternyata masih belum tampak optimal hasilnya. Keputusan Konvensi Hak Anak PBB secara jelas menyebutkan satu per satu hak anak yang harus dipenuhi. Di antaranya, memperoleh hak untuk bermain, memperoleh pendidikan, perlindungan, mendapatkan nama (identitas), status kebangsaan, makanan, kesehatan, rekreasi, kesamaan, dan memiliki peran dalam pembangunan.

Anak harus dilindungi oleh siapa pun dari eksploitasi ekonomi dan terhadap pekerjaan yang berbahaya atau mengganggu pendidikan, merugikan kesehatan anak, perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial. Asah, asuh, dan asih anak sebagai modal awal pemenuhan hak anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua manusia yang menyandang predikat dewasa di penjuru Indonesia harus ikut bertanggung jawab sehingga presiden nanti harus bertanggung jawab penuh baik sebagi presiden atau sebagai pemimpin bangsa.

Kepedulian Capres

Seharusnya capres harus memperhatikan dengan cermat berbagai permasalahan yang dapat mengancam hak anak. Kepedulian ini hendaknya juga terangkum dalam program kerja atau pemaparan visi dan visi mereka. Sayangnya sesuatu yang seharusnya terjadi ini masih jauh api dari panggang. Kalau sejak menjadi calon presiden sudah ada gelagat untuk melupakan hak hidup dan kelangsungan  anak. Maka kepedulian seorang presiden terhadap hak anak nantinya hanya sebatas kepedulian seremonial belaka.  Seperti selama ini yang terjadi, perhatian hanya mengelora saat hari anak setahun sekali.

Bila sampai batas akhir kampanye belum ada sedikitpun dukungan itu, masih dapat diharapkan saat menjadi presiden nantinya. Upaya dukungan pemerintah terhadap kepedulian hak anak harus disiapkan secara sistematis dan strategis. Diawali dengan identifikasi permasalahan yang cermat, perencanan yang detail dan jelas serta kemauan politik yang kuat dari sang presiden. Bila ingin disebut sebagai pejuang anak Indonesia, adalah perbuatan yang mulia mengangkat kementrian kepedulian anak. Kalaupun masih belum terwujud kementrian pemberdayaan wanita yang ada sekarang harus secara proposional memperjuangkan hak anak, bukan hanya didominasi hak perempuan.

Tetapi jika saat calon presiden kurang peduli dan saat menjadi presiden masih mengabaikan kepentingan anak, maka sangatlah suramlah nasib bangsa ini. Kepedulian terhadap kelangsungan hidup dan hak anak adalah cerminan pembangunan bangsa ini terhadap generasi mudanya. Bila pembangunan dan intervensi terhadap generasi tersebut diabaikan, maka persaingan masa depan untuk menjadi bangsa besar akan semakin jauh tertinggal. Bila hal itu benar terjadi, anak Indonesia hanya bisa menangis. Karena anak adalah manusia yang tak berdaya, hanya bisa menangis dan menghiba.

 

 

Provided by
SAVE  OUR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com 

https://saveindonesianchildren.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

 

 

 

Copyright © 2009, Save The Children  Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Responses

  1. setuju, capres promosi sebaiknya mengarah kepada kegiatan kemanusiaan agar lebih bermanfaat, sayang duitnya hanya u/ iklan tv, biar tv aja yg meliput kegiatan tersebut kan efektif tho…😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: