Posted by: Indonesian Children | October 3, 2009

Anak yang Sering Dipukul Punya IQ Rendah

MEMUKUL anak mungkin bisa dengan cepat membuat dia lebih menurut. Namun, penelitian tim dari Pacific Institute for Research and Evacuation, Maryland, AS mengungkapkan bahwa memukul anak menyebabkan IQ (intelligence quotient) atau tingkat kecerdasan mereka menurun.

Studi terkini menyebutkan, orangtua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah. 

Studi yang dilakukan peneliti terhadap ribuan anak di Amerika Serikat menunjukkan, anak yang kerap ditampar orangtuanya memiliki nilai IQ (intelligence quotients) yang lebih rendah dibanding anak yang tidak pernah ditampar.

“Setiap orangtua ingin punya anak yang pintar. Dengan menghindari kekerasan pada anak dan melakukan cara lain untuk mengoreksi kesalahan anak, hal itu bisa dicapai,” kata Murray Straus, sosiolog dari Universitas New Hampshire, AS.

Penelitian itu dilakukan terha dap dua kelompok anak, yaitu 806 anak berusia 2-4 tahun dan 704 anak berumur 5-9 tahun. Para 704 anak berumur 5-9 tahun. Para peneliti memeriksa IQ anak di awal penelitian kemudian IQ mereka diperiksa pada empat tahun kemudian.

IQ kedua kelompok anak tersebut bertambah dalam empat tahun itu. Namun, kelompok anak 2-4 tahun yang dipukul oleh orang tuanya mencatatkan nilai IQ lima poin lebih rendah daripada mereka yang tidak dipukul. Pada kelompok 5-9 tahun, nilai IQ anak yang dipukul lebih rendah 2,8 poin ketimbang rekan mereka. “Penelitian itu menunjukkan bahwa orang tua harus mencari cara selain memukul untuk mendisiplinkan anak mereka,” ujar pemimpin penelitian tersebut Murray Straus.

“Pemukulan atau tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi anak. Berbagai penelitian telah menunjukkan kejadian yang traumatik berakibat buruk bagi otak. Selain itu, trauma juga membuat anak memiliki respon stres pada kejadian sulit yang dihadapi. Hal ini tentu berdampak pada perkembangan kognitifnya,” papar Straus.

Tak sedikit orangtua yang menjadikan pukulan, tamparan, atau jeweran sebagai senjata untuk mendidik anak. Anak pun memilih untuk menurut daripada mendapat hukuman. “Akibatnya anak tidak bisa berpikir secara independen,” kata Elizabeth Gershoff pakar dibidang perkembangan anak dari Universitas Texas, Austin, AS.

 

sumber : mediaindonesia.com/kompas

 

Provided by
SAVE  OUR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com 

https://saveindonesianchildren.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO 

email : judarwanto@gmail.com,

 

 

 

 

Copyright © 2009, Save The Children  Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: