Posted by: Indonesian Children | January 19, 2010

BABE alias BAEKUNI , PEDOFILIS YANG BUNUH 8 ANAK JALANAN

KUMPULAN BERITA :

BABE alias BAEKUNI , SANG PEDOFILIS MUNGKIN BUNUH LEBIH 8 ANAK JALANAN

Point of Interest :

Praktik pedofilia di Indonesia mulai ramai dibicarakan sekitar sepuluh tahun terakhir. Beberapa kasus praktek kejahatan pedofilia mulai sering dilaporkan, khususnya dari aktivis LSM Perlindungan Anak. Apalagi dalam beberapa kasus yang terkuak para pelaku pedofilia itu adalah warga negara asing. Tidak heran di daerah-daerah wisata Indonesia yang sering dikunjungi wisatawan asing dijadikan surga praktik pedofilia. Biasanya seorang pedofilia adalah seorang singa berbulu domba. Mereka selalu mengelabuhi anak-anak dengan memberikan iming-iming uang, pakaian, makanan atau mainan secara berlebihan. Demikian juga babe, kebiasaannya yang dekat dengan anak jalanan memang dianggap wajar para tetangga Babe. Karena sejak mengontrak di daerah ini, lelaki itu hanya tinggal seorang diri. Mungkin karena tidak punya anak, jadi dia merawat anak-anak jalanan dengan penuh perhatian. Kebaikan Babe diketahui warga karena lelaki ini jarang membeli makan jadi. Dia selalu memasak sendiri makanan untuk anak jalanan yang ditampungnya. Selain itu juga, babe terkadang memberi uang kepada bocah di sekitar tempat tinggal meski bukan anak asuhnya.

Dilihat dari berbagai bentuk karakteristik perbuatan kaum pedofilia bisa dikatakan anak-anak dieksploitasi sebagai korban. Apalagi sebagian kasus pedofilis akan membunuh korbannya bila merasa terancam rahasianya. Anak-anak sebagai korban mestinya dilindungi dan memperoleh pelayanan khusus, terutama di bidang hukum. Secara juridis, pihak yang dituntut bertanggungjawab adalah eksploitatornya atau pelakunya. Selama ini undang-undang yang sering dipakai untuk mengadili penjahat ini adalah dengan KUHP Pasal 292 juncto pasal 64. Tentang Pencabulan. Tuntutan maksimalnya 5 tahun dipandang banyak aktivis perlindungan anak sudah tidak relevan untuk memberikan efek jera bagi si pelaku.

Kaum Pedofilis harus segera sadar, dengan kenistaan yang hanya memburu kenikmatan sesaat itu ternyata dapat menghancurkan anak seumur hidupnya. Semua lapisan masyarakat, institusi swasta, instasi pemerintah, pemerintah, aktifis dan pemerhati anak harus bahu membahu tiada henti bekerjasama melawan dan melindungi anak Indonesia dari ancaman segala kekerasan terutama pedofilia. Para orangtua harus selalu waspada dan hati-hati terhadap singa berbulu domba seorang pedofilia. Anak jalanan adalah sasaran empuk kaum pedofilia, karena mereka tidak ada yang melindungi. Semua pihak atau siapapun masyarakat yang peduli dengan pengabaian hak anak tersebut harus cepat melakukan aksi nyata melawan pedofilis yang kejam ini. Jangan sampai di masa mendatang terlahir seorang Robot Gedeg atau Babe yang lain hanya karena masyarakat meremehkan hak sebagian anak Indonesia yang mulai pudar.

Dr Widodo Judarwanto SpA

 

KLIPING BERITA SANG PEDOFILIS SADIS

1. Pelaku Mutilasi Ternyata Koordinator Pengamen di Pulogadung

Tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Timur, sudah menangkap pelaku mutilasi terhadap bocah yang mayatnya di temukan di Jalan Raya Bekasi KM 27, Ujung Menteng, Jakarta Timur. Pelaku adalah pedagang asongan sekaligus koordinator pengamen di Pulogadung, Jaktim. Dalam jumpa pers di lobi Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kepada Bidang Humas Polda Metro, Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan, bahwa pelaku bernama Bayquni alias Babeh. Pelaku ditangkap di rumahnya di kawasan Jalan Masjid, Cakung, Jakarta Timur, sekitar pukul 03.00 dini hari tadi.

Sementara korban adalah Ardiansyah adalah bocah berusia, 9 tahun, warga Jalan Ketut, RT 4 RW 7, Cakung, Jakarta Timur. Korban adalah salah satu pengamen yang berada di bawah koordinasi pelaku dan biasa bekerja di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Penangkapan tersangka berawal dari ditemukannya seorang saksi yang melihat orang yang membuang bungkusan tersebut sekaligus yang memberitahu ada orang yang kehilangan anaknya. Setelah orangtua Ardiansyah melihat langsung potongan tubuh korban di RS Polri, mereka yakin kalau korban adalah anaknya dengan ciri luka di lengan kanan. Setelah melakukan penyelidikan, akhirnya polisi menangkap pelaku di rumahnya. Dari hasi pemeriksaan ditemukan sejumlah barang yang identik dengan korban. “Ada kardus, tali rapiah dan golok serta baju korban yang masih berlumur darah,” ujar Boy Rafli, kepada wartawan di Polda Metro Jaya

2. Babe Bunuh Tujuh Anak Jalanan, Tiga Dimutilasi

Berdasarkan tes psikologi yang dilakukan ahli dari Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, Baekuni atau Babe akhirnya mengakui kalau dirinya telah membunuh tujuh anak jalanan sejak 2007 lalu. Menurut Sarlito, Babe mengaku membunuh tiga korbannya dan dimutilasi. Sementara empat korban lainnya hanya dibunuh saja tanpa dimutilasi. “Caranya selalu sama dengan cara Babe membunuh Ardiansyah,” ujarnya, Kamis (14/1). Pemeriksaan kejiwaan Babe masih terus dilakukan penyidik untuk mendalami kalau ia dapat mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan hukum. Kebiasaannya yang dekat dengan anak jalanan memang dianggap wajar para tetangga Babe. Karena sejak mengontrak di daerah ini, lelaki itu hanya tinggal seorang diri. “Mungkin karena tidak punya anak, jadi dia merawat anak-anak jalanan dengan penuh perhatian” ujarnya.

Kebaikan Babe diketahui warga karena lelaki ini jarang membeli makan jadi. Dia selalu memasak sendiri makanan untuk anak jalanan yang ditampungnya. Selain itu juga, babeh terkadang memberi uang kepada bocah di sekitar tempat tinggal meski bukan anak asuhnya. “Kalau kata orang dia selalu memandikan anak asuhnya, saya enggak tau. Karena saya enggak pernah melihat” ujar warga lainnya. Kontrakan Babe yang terletak di gang sempit bernama gang Mudalim, Jalan Masjid bergabung diantara padatnya pemukiman yang terletak berapa ratus meter di belakang terminal Pulogadung (Dari samping terminal, belok ke kiri hingga melewati pasar tradisional). “Babe tinggal di sini udah sekitar dua tahunan” ujar warga lainnya. Saat ini kontrakan kecil Babe masih dalam keadaan terkunci. Suasana lingkungan sekitar pun telah kembali normal, walau masih sesekali terdengar pembicaraan antara warga tentang sosok Babe yang misterius.

Sumber : Vivanews

3. Babe Bunuh 7 Bocah, 3 Dimutilasi
Dijerat Tali Rafia, Tewas, Jenazah Korban Lantas Disodomi

Pengakuan mencengangkan kembali diungkap Baequni alias Babe (48). Pria yang ditangkap lantaran membunuh dan memutilasi Ardiansyah (8) itu, kemarin mengaku selama dua tahun terakhir sudah membunuh tujuh bocah dengan cara dimutilasi. “Pengakuan sadis ini disampaikan psikolog dari Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, usia memeriksa kejiwaan Babe di Polda Metro Jaya, Kamis (14/1) siang kemarin. “Saya sempat kaget mendengar pengakuannya. Dia mengaku tiga korban yang dibunuhnya dimutilasi, sedangkan empat korban lainnya hanya dibunuh tanpa dimutilasi. Seluruh korban anak-anak berusia di bawah 12 tahun,” ujar Sarlito. Menurut dia, dalam pengakuan Babe, ia terpaksa membunuh karena bocah-bocah itu menolak saat hendak disodomi. “Karena korbannya menolak maka langsung dijerat tali rafia hingga tidak berdaya seperti pingsan atau mati, lalu disodomi,” ungkapnya. Pengakuan Babe yang juga membuat ngeri karena korbannya walau diketahuinya sudah menjadi mayat, namun dia tetap menyodominya. “Jadi perilakunya bukan hanya paedofil, tapi juga necrofil yaitu senang berhubungan seks dengan mayat,” imbuhnya.

Sarlito menegaskan, kondisi kejiwaan Babe cukup normal sehingga dapat mengikuti proses hukum hingga ke persidangan. “Artinya dia tidak memiliki gangguan kejiwaan karena semuanya dilakukannya dengan sadar termasuk pembunuhan-pembunuhan itu,” tegasnya. Beberapa hal yang juga diungkap Sarlito adalah soal kelainan seks Babe. Yakni, dia tergolong homoseks bawaan. Dari latar belakang kehidupannya diketahui bahwa Babe merupakan anak petani asal Magelang yang sejak kecil selalu dimaki-maki bodoh karena beberapa kali tidak naik kelas. Akibatnya Babe hanya bersekolah hingga kelas 3 SD. Di usia 12 tahun, Babe merantau sendirian ke Jakarta dan menjadi gelandangan di kawasan Lapangan Banteng. “Di lapangan itu menurut Babe, dia disodomi paksa. Setelah itu dia dipungut seseorang bernama Cuk Saputar lalu dibawa ke Kuningan, Jawa Barat untuk menggembala kerbau,” paparnya. “Umur 21 tahun dia dinikahkan. Tapi karena engak bisa ereksi, dia ngak punya anak hingga istrinya meninggal,” terangnya. Dari keterangan Babe sejak dirinya disodomi itu ia menjadi seorang homoseks.

Sepeninggal isteri, Babe kembali ke Jakarta untuk berdagang asongan sambil mengasuh anak jalanan. Saat hasrat seksualnya yang ganjal muncul, Babe mengambil orang di luar kelompok asuhannya untuk disodomi lalu dibunuh. “Babe juga mengakui tidak pernah mengalami mimpi basah seperti lazimnya pria normal maupun melakukan masturbasi. Jadi jelas dia homoseks bawaan, bukan jadi-jadian. Dia hanya bisa ereksi terhadap sesama jenis khususnya anak kecil,” pungkasnya. Di bagian lain, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar juga membenarkan kalau Babe tidak mengalami gangguan kejiwaan. “Dia sangat sadar saat melakukannya. Tapi memang dia punya perilaku seks menyimpang,” ujarnya. Terkait pengakuan Babe yang telah membunuh empat bocah lainnya? Boy mengatakan pihaknya masih terus mendalami pengakuan tersebut sekaligus melacak identitas keempat bocah tersebut, dimana membuang atau mengubur mayatnya termasuk mencari identitas dan keluarga dua bocah korban mutilasi Babe yang dikatakan Babeh bernama Adi, 6, dan Arief, 9. Terkait dugaan Babe adalah anggota perdagangan organ tubuh manusia, Boy mengatakan kalau kemungkinan itu juga masih terus didalami pihaknya.

Babe pilih-pilih anak kecil yang akan dijadikan korban pelampiasan hasrat seksualnya. Babe menyukai anak kecil yang cakep dan bersih. “Babe pilih-pilih, tidak semuanya dipakai. Yang cakep-cakep dan bersih. Dia punya kelas,” kata kuasa hukum Babe, Haposan Hutagalung dalam jumpa pers di Hotel Ambhara, Blok M, kemarin. Babe suka menampung banyak anak di rumah kontrakannya, di Gang H Dalim RT 06/02, Pulogadung, Jakarta Timur. Hal itu dilakukan sejak Babe beranjak dewasa. Saat polisi menggerebek kontrakan Babe, 3 anak berada di dalamnya. Salah satunya diketahui sebagai anak hilang. Menurut dia, Babe tidak menyodomi anak-anak jalanan yang sudah lama menetap di rumahnya. “Kalau yang disodomi, anak-anak baru yang dibawa sama teman-temannya terus dirawat, biar balik lagi,” ujar Haposan. Babe selalu merawat anak jalanan yang menetap di kontrakannya. Pria asal Magelang ini kerap memandikan anak jalanan dan mendandaninya. “Bahkan, anak-anak di sana disarankan untuk menabung. Jadi orang tuanya percaya,” kata Haposan. Bagaimana proses membunuhnya? “Kalau lagi naik libido dia sebelum dieksekusi dimandiin dulu, disisirin. Kalau sudah timbul keinginan saat itu, kalau ditolak langsung dijerat lehernya,” papar Haposan. Menurut dia, Babe memutilasi korban untuk menghilangkan jejak. “Dia mau menghilangkan mayatnya. Karena badan anak-anak kecil, supaya muat dimasukkan ke dalam kardus untuk mempermudah menghilangkan jejak,” kata dia.

Sumber : jakartapress

4. Polisi akan perketat pengawasan terhadap anak jalanan

Terkait peristiwa pembunuhan dan mutilasi yang bocah pengamen jalanan di Jakarta Timur, polisi akan memperketat pengawasan terhadap anak-anak jalanan. “Mereka (anak jalanan) sangat rentan sebagai korban kekerasan,” ujar Juru Bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, Sabtu (9/1).

Anak jalanan ditemukan tewas dibunuh dan dimutilasi oleh Ba alias Babe, 48 tahun, yang menjadi kordinator anak-anak pengamen di sekitar Pulogadung, Jakarta Timur pada Jumat (8/1) dini hari. Ba memotong tubuh korban yang merupakan salah satu pengamen di bawah koordinasi dia menjadi lima bagian dan selanjutnya membuang di dua tempat yang berbeda. Kepada penyidik, Ba mengaku membunuh korban karena korban menolak saat diajak berhubungan seksual. “Pelaku sakit hati, korban dicekik hingga mati, setelah mati disodomi,” ujar Boy. Menurut Boy, saat ini polisi sudah berupaya melakukan pengawasan terhadap anak-anak jalanan. “Selama ini kami sudah melakukan pengawasan dan pendataan anak-anak jalanan berkerja sama dengan dinas sosial,” ujar Boy. “Karena kemungkinan ada Babe-Babe yang lain.”
Pada Jumat (8/1), warga menemukan jasad tanpa kepala dalam kantong plastik hitam yang diwadahi kardus botol minuma kemasan 1,5 liter sekitar pukul 05.45. Tubuh korban, yang selanjutnya diketahui sebagai Ardiansyah, dipotong menjadi 4 bagian minus kepala. Potongan yang ditemukan dalam kardus tersebut adalah kaki kanan dan kiri, lutut hingga panggul dan panggul hingga leher. Sedangkan kepala tidak ada. Kepala korban baru ditemukan tadi pagi di kolong jembatan dekat terminal Pulogadung. Atas perbuatannya itu, Baekuni diancam pasal 340 junto 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Sumber : waspadaonline 

5.Babe Jadi Korban Sodomi saat Berusia 12 Tahun

Tindakan keji yang dilakukan oleh Baekuni alias Babe, 49, dilaknat oleh berbagai pihak, namun Babe sendiri pernah mengalami kekerasan seksual serupa di masa kecilnya dulu. “Dia pernah disodomi saat berumur 12 tahun oleh orang dewasa, ada pengalaman buruk waktu itu,” kata kuasa hukum Babe, Rangga Berri Kuser saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (13/1). Di tambahkan oleh Rangga bahwa Babe di usianya ke 12 tahun itu merantau dari kampungnya di Magelang. Namun saat sampai di Jakarta, dia disodomi oleh pria dewasa.

Saat itu, lanjutnya, Babe juga menggelandang tinggal di Jakarta sama seperti anak-anak yang tinggal di rumah Babe. Namun Rangga belum bisa mengatakan apakah pengalaman buruk masa lalu Babe yang memotivasinya untuk merawat sejumlah anak-anak jalanan hingga ada yang di sodomi atau lebih parah lagi dibunuh dan di mutilasi. Babe oleh anak-anak yang tinggal dirumahnya disebutkan selain sering kasar juga sering memberi makan dan uang jajan. Tak hanya itu, Rangga juga menerangkan bahwa saat Babe memutilasi tubuh korbannya dalam keadaan sadar. “Dia dalam keadaan sadar saat itu (saat memutilasi), ada sensasi tersendiri saat memutilasi, itu menurut keterangan dia,” ungkap Rangga. Saat melakukan mutilasi tersebut Babe merasa ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk memutilasi. “Itulah yang mendorong dia memutilasi, padahal ketika dia selesai melakukan itu ada perasaan menyesal,” imbuh Rangga. Kenapa bisa sampai terulang lagi memutilasi anak itu, meski Babe merasa menyesal, Rangga menjawab hal tersebut karena di luar kesadaran Babe. Namun itu juga akan ditindak lanjuti oleh psikolog nantinya. Rangga menuturkan bahwa saat dirinya mendampingi Babe sebagai kuasa hukum, Babe 70% lancar dan sadar menceritakan kejadian memutilasi tersebut. Namun Babe menurutnya masih sulit untuk diwawancarai karena masih dalam tahap penyidikan kepolisian dan kondisi kejiwaannya yang sedang diperiksa. Babe menjadi tersangka kasus pembunuhan dan mutilasi seorang bocah bernama Ardiansyah, 10. Setelah dibunuh, korban kemudian di potong-potong dan bagian tubuh dibuang di kawasan kanal banjir timur (KBT). Sedangkan kepala korban dibuang di sebuah jembatan dekat Termilan Pulogadung, Jakarta Timur.

Sumber : mediaindonesia

6.Kriminolog: Anak jalanan rentan jadi korban pembunuhan

Kriminolog Universitas Indonesia, Iqrak Sulhi, mengatakan anak-anak jalanan sangat rentan menjadi korban kejahatan. “Kecenderungan anak yang menjadi korban kejahatan hingga pembunuhan adalah anak-anak yang tidak memiliki jaminan sosial seperti anak jalanan,” ujarnya, Sabtu (9/1). Menurut Iqrak, ada tiga aspek yang menyebabkan anak jalanan rentan menjadi korban kejahatan. Pertama, sebagian besar mereka tidak mendapat pengawasan yang baik dari orang tua mereka. Kedua, dorongan kondisi ekonomi yang memaksa mereka untuk bergantung pada orang lain. “Ada ketergantungan kebutuhan ekonomi anak terhadap orang lain, karena tidak mereka peroleh dari orang tua,” ujar Iqrak. Sedangkan aspek ketiga adalah faktor lingkungan yang cenderung kurang peduli dengan kondisi yang menimpa anak-anak tersebut.

Anak pengamen jalanan dibunuh dan dimutilasi oleh Ba alias Babe, 48 tahun, yang menjadi kordinator anak-anak pengamen di sekitar Pulogadung, Jakarta Timur pada Jumat (8/1) dini hari. Ba memotong tubuh Ardiansyah yang merupakan salah satu pengamen di bawah koordinasi dia menjadi lima bagian dan selanjutnya membuang di dua tempat yang berbeda.Menurut Iqrak, untuk mencegah terjadinya hal yang sama, pihak orang tua harus meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka. “Sayangnya, selama ini justru anak-anak tersebut menjadi pengamen dan menggantungkan perekonomiannya pada orang lain itu atas restu orang tuanya,” ujar Iqrak.Karena itu, peran serta pemerintah menjadi sangat penting. “Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak jalanan, tanggung jawab Negara memelihara anak-anak jalanan agar tikdak diekspolitasai atau bahkan dibunuh dan dimutilasi,” ujar Iqrak.

SAVE OUR CHILDREN, The Children Indonesia
http://saveourchilkdren.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: