Posted by: Indonesian Children | June 8, 2010

Kekerasan Pada Anak Terus Terjadi : Kejam Luar biasa, Ibu Kandung Siksa Anak 5 Bulan

Kekerasan Pada Anak Terus Terjadi :

Kejam Luar biasa, Ibu Kandung Siksa Anak 5 Bulan

Kekerasan pada anak tiada henti-hentinya terjadi pada anak yang tidak berdaya. Sesuai dengan fakta statistik justru pelaku tersering adalah orang terdekat anak seperti orangtua. Hal inilah juga yang dilakukan seorang ibu kandung yang menyiksa anaknya yang berusia 5 bulan sehingga beberapa anggota badanya remuk.

Fery, bayi berumur 5 bulan ini tergeletak lemah dalam kondisi mengenaskan di ruang IGD RSUD Koja Jakarta Utara. Fery terbaring dengan kedua tangan dan kakinya patah di beberapa bagian. Bocah malang itu menjadi korban kekerasan ibunya. “Bayi tersebut masuk IGD pukul 10.53 WIB pagi tadi, diantar oleh tiga lelaki yang mengaku tetangga korban,” ujar dokter jaga di IGD RS Koja, dr Hermansyah, di RS Koja, Jakarta Utara.

Menurut Hermansyah, ketiganya membawa bayi merah itu dari rumahnya di Jalan Baru Kampung Kebon Bayem X BMW RT 010/008 Papanggo, Tanjung Priok. “Mungkin para tetangga itu kasihan dengan bayi ini. Atas perhatian tokoh masyarakat, beberapa warga membawa bayi ini ke sini,” jelasnya.

Segera ditangani Tim Dokter

Berdasarkan hasil rontgent dan keterangan dokter spesialis tulang, Fery mengalami patah tulang. “Beberapa di antaranya berasal dari luka lama,” katanya.

Tim dokter RS Koja, Jakarta Utara, akan lebih dulu memfokuskan perawatan terhadap Ferry, bayi lima bulan yang dianiaya ibunya, dengan pembenahan pada sejumlah tulang kaki dan tangannya yang patah. Kondisi kesadaran Ferry saat ini masih cukup baik. “Kalau kondisi umumnya, kami nilai general. Kesadarannya masih cukup bagus. Tidak demam dan stabil. Hanya memang ada patah tulang di beberapa lokasi,” kata Arsanto, dokter spesialis ortopedi RS Koja.

Ia mengatakan, tim dokter saat ini tengah mengupayakan penyambungan beberapa tulang Ferry yang patah. Menurut Arsanto, pembenahan patah tulang ini akan memakan waktu beberapa pekan. “Untuk anak-anak biasanya kondisi pemulihan tulangnya lebih cepat,” ujarnya. Secara umum, kata Arsanto, luka yang dialami Ferry berasal dari kekerasan benda tumpul. Sementara beberapa luka sobek ataupun lecet masih belum bisa diidentifikasi. “Itu masih belum bisa dipastikan penyebabnya,” tuturnya

Menurut keterangan Fery sering disiksa oleh ibunya sendiri Yani (32) di rumah kontrakannya. “Kalau mukulin anaknya dia selalu menutup pintu. Dia selalu memukul anaknya setiap magrib,” ujar salah seorang tetangga Yani, Yatminah.

Yatminah menceritakan, Yani  menitipkan Fery sekitar pukul 07.00 WIB pagi tadi. Saat digendong, tangan Fery langsung lemah seperti tidak mempunyai tulang. “Saya kaget, langsung saya tanya kepada Yani. Kenapa anak kamu Yan, kok begini. Tapi Yani bilang ya udah jangan cerewet saya titip dulu, saya mau pergi,” jelasnya.

Melihat kejadian tersebut, Yatminah langsung meunjukkan tangan dan kaki Fery yang telah patah kepada warga sekitar. “Kedua tangan Feri sudah berputar, seperti pernah dipelintir. Akhirnya warga langsung memutuskan untuk ke rumah sakit,” katanya. Selama ini, Yani diketahui tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mengetahui siapa suami Yani. “Sepertinya dia tak punya suami, dan juga tak punya pekerjaan,” paparnya Meski begitu, para tetangga belum pernah melihat secara langsung Yani menyiksa anaknya. “Kita enggak tau apakah dibanting atau dipukul, kita enggak pernah lihat. Yang jelas kedua anaknya menjerit-jeritan dan terdengar juga suara pukulan,” tandasnya.

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Utara, AKP Tri Pamudjiningsih, Yani ditangkap pada Jumat 4 Juni malam lalu dan langsung dijadikan tersangka penganiayaan anaknya. Saat ditanya, imbuh Tri, Yani hanya senyum-senyum. “Nah ini kita belum tahu karena waktu ditanya dia cuma senyam-senyum, kadang diam. Kemungkinan dia depresi. Tapi untuk lebih memastikan apakah dia mengalami gangguan jiwa atau tidak hari Senin (hari ini) kita akan datangkan ahli psikiater untuk memeriksa kejiwaan dia,” jelas Tri saat dihubungi wartawan.

Sementara tentang Fery, pihaknya sudah menyiapkan rumah aman bagi bayi berumur 5 bulan itu bila sudah keluar dari rumah sakit. “Tapi kita harus koordinasikan dulu dengan Pak RT-nya,” tandasnya.

Ditahan Polisi

Polisi telah menetapkan Indriyani alias Yani (35) sebagai tersangka kasus penyiksaan terhadap Ferry (5 bulan). Tindakan kekerasan yang dilakukan Yani terhadap Ferry tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi berkali-kali. Ia juga melakukan hal itu terhadap dua anaknya yang lain. “Dari pemeriksaan dan keterangan saksi-saksi, tersangka memang kerap melakukan penyiksaan terhadap anaknya,” kata Kapolres Jakarta Utara Kombes Rudi Sufahriyadi saat memberikan keterangan pers di Mapolrestro Jakarta Utara, Senin.

Selain Ferry, kata Rudi, Yani juga memiliki dua anak lainnya. Satu anak perempuan berusia lima tahun bernama Icha dan satu lagi anak laki-laki berusia 12 tahun. “Icha saat ini sudah ditempatkan di safe house rumah penampungan anak. Sementara itu, satu lagi hingga kini belum diketahui keberadaan maupun identitasnya. Ia diduga menjadi anak jalanan,” kata dia.

Perilaku kekerasan Yani terhadap ketiga anaknya itu terungkap dari keterangan saksi yang merupakan tetangga-tetangga Yani. Rudi mengatakan, para tetangga Yani kerap melihat Yani menyiksa anak-anaknya. “Tetangganya pernah melihat Icha dipukuli pakai ember,” kata dia.

Akibat tindakannya itu, Yani kemudian dijerat dengan Pasal 44 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dengan ancaman 10 tahun penjara. Selain itu, dia juga dikenakan Pasal 80 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman tujuh tahun penjara. “Tersangka saat ini masih terus kami periksa. Juga akan diperiksa kondisi kejiwaannya,” ujar Rudi Sufahriyadi.

Ibunya Bantah Menyiksa

Indriyani alias Yani (35), membantah telah melakukan penganiayaan terhadap anaknya Ferry yang masih berusia lima bulan. Saat dihadirkan dalam jumpa pers di Mapolres Jakarta Utara, Yani mengatakan hanya menggendong-gendong Ferry. “Ya hanya dibawa jalan-jalan saja. Digendong-gendong begitu,” kata Yani saat ditanyai wartawan.

Namun, keterangan yang diberikan Yani ini berbelit-belit. Ia terkesan tidak memberikan penjelasan yang logis lantaran tidak bisa menjelaskan penyebab patah tulang dan luka bekas penganiayaan di tubuh Ferry. “Enggak tahu. Mungkin dia alergi saya gendong kali. Makanya jadi patah. Enggak dibanting, kalau itu kan sakit,” katanya agak linglung.  Yani juga mengaku sangat menyayangi Ferry sehingga tidak mungkin ia melakukan penyiksaan seperti yang dituduhkan. “Ya saya sayang sama dia,” ujarnya dengan raut muka yang datar. 

Keterangan yang diberika Yani ini pun kerap berubah-ubah. Kepada wartawan ia sempat mengiyakan jika bayinya bernama Ferry. Namun kemudian dia mengatakan Ferry sebenarnya bernama Abdul Haris

Dari berbagai sumber

Provided by

SAVE  THE CHILDREN INDONESIA  Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646 email : judarwanto@gmail.com 

https://saveindonesianchildren.wordpress.com/

Foundation and Editor in Chief : dr Widodo Judarwanto SpA

curriculum vitae 

 

Copyright © 2010, Save The Children  Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: